Pollung: internasional
Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2026

Separatis Druze Suriah Dukung Israel Lawan Iran

Maret 26, 2026
Separatis Druze Suriah Dukung Israel Lawan Iran

Situasi keamanan di wilayah Suwayda kini berada pada titik paling kompleks akibat tarik-ulur kepentingan politik lokal dan intervensi Israel yang semakin nyata. Ketegangan memuncak setelah muncul pernyataan kontroversial dari pemimpin separtis Deuze Suriah pro Greater Israel, Hikmat al-Hajari, yang secara terbuka menyinggung posisi Iran di kawasan tersebut. Dalam sebuah rekaman video, ia memberi sinyal dukungan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang telah menimbulkan ribuan korban tewas khususnya kalangan sipil dan anak-anak sekolah. Pernyataan ini segera memicu perdebatan panas karena dianggap berpotensi mengancam kedaulatan nasional Suriah.

Dalam diskursus yang berkembang di Al-Ikhbariya, terlihat adanya pembelahan tajam antara kelompok Druze yang menginginkan stabilitas di bawah negara dan mereka yang menuntut otonomi lebih luas atau separatisme. Pemerintah Suriah melalui otoritas lokal terus berupaya meyakinkan warga bahwa rekonsiliasi dan pemulihan layanan publik adalah satu-satunya jalan keluar. Namun, pengaruh tokoh pemberontak seperti al-Hajari yang pernah melakukan pembantaian kepada warga Arab Badui memicu polarisasi, dengan semakin menguatnya wacana pembentukan negara sendiri di kalangan Druze sebagai bagian dari memperkuat hegemoni Israel. Situasi ini diperparah oleh adanya agenda Israel dkk yang berupaya memecah keutuhan Suriah dari dalam.

Posisi ini sebenarnya tidak mengherankan karena warga Druze di Israel juga menjadi ujung tombak tentara Israel dalam kampanye genosida terhadap warga Palestina di Gaza yang masih berlanjut sampai sekarang. Perwira Druze Israel dikenal berdarah dingin saat membantai saudara Arab mereka dari Palestina.

Tokoh berpengaruh Suwayda, Hassan al-Atrash, memilih berpindah ke Damaskus untuk menjaga jalur komunikasi dengan pemerintah pusat. Keputusan ini diambil di tengah tekanan dari milisi separatis Druze bersenjata yang dinilai membatasi kebebasan berpendapat warga. Ia menegaskan bahwa berada di ibu kota memberinya ruang lebih aman untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat tanpa intimidasi kelompok bersenjata. Langkah ini mencerminkan kompleksitas kekuasaan lokal yang kini banyak didominasi kepentingan kelompok pro Israel.

Isu identitas juga menjadi sumber ketegangan. Penggunaan istilah Jabal Bashan, sebagai nama negara de facto yang dbangun, ditolak oleh kelompok nasionalis yang tetap mempertahankan nama Jabal al-Arab sebagai simbol sejarah. Nama tersebut merujuk pada warisan perjuangan Sultan Pasha al-Atrash dalam melawan penjajahan Inggris dan Prancis. Upaya perubahan nama dianggap bukan sekadar persoalan istilah, melainkan bagian dari upaya mengikis identitas nasional Suriah. Bagi banyak warga, persatuan nasional tetap menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar.

Di sisi lain, separatisme Suwayda juga memiliki dimensi kemanusiaan yang serius. Masalah pendidikan, keamanan mahasiswa, hingga sengketa lahan pertanian semakin memperburuk kondisi sosial. Banyak mahasiswa merasa tidak aman saat belajar di luar daerah karena stigma politik. Sektor pertanian pun lumpuh karena ancaman keamanan membuat petani yang kebanyakan Arab Badui enggan menggarap lahan. Warga kini menuntut pemulihan layanan dasar dan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama.

Terkait Iran, muncul pertanyaan mengapa komunitas Druze yang memiliki akar sejarah dari Syiah Ismailiyah justru anti-Teheran yang kini dibombardir saban hari oleh Israel-AS. Secara historis, Druze memang berkembang dari tradisi tersebut, namun selama berabad-abad telah menjadi identitas yang sepenuhnya mandiri. Mereka tidak lagi mengidentifikasi diri dengan spektrum Syiah modern, apalagi dengan konsep Wilayat al-Faqih yang menjadi ideologi Iran. Bagi komunitas Druze, ajaran tersebut dianggap tidak selaras dengan tradisi mereka yang lahir di Mesir era Dinasti Syiah Fatimiyah.

Penolakan terhadap Iran juga dipicu pengalaman di lapangan. Kehadiran milisi pro-Iran di era Bashar Al Assad kerap dipandang mengabaikan kedaulatan lokal. Banyak warga melihat intervensi tersebut bukan sebagai bantuan, melainkan sebagai bentuk dominasi geopolitik. Iran dianggap memanfaatkan konflik Suriah untuk kepentingan strategisnya dalam persaingan regional, sehingga memunculkan sentimen anti-Iran yang cukup kuat di masyarakat. Meski begitu, sebagian besar milisi separatis Druze diisi oleh eks militer Assad dan eks militan pro Iran dari masa lalu.

Sebagian kecil kelompok yang memiliki keterkaitan dengan Hezbollah tetap mendukung Iran. Namun, dukungan ini dinilai tidak merepresentasikan mayoritas rakyat Suriah. Hezbollah sering dipandang sebagai perpanjangan tangan kepentingan Iran yang justru memperpanjang ketidakstabilan. Dominasi narasi kelompok ini kadang menimbulkan kesan bahwa Suriah sepenuhnya berada dalam posisi anti Iran pasca lengsernya Assad, meski realitas di akar rumput masih terdapat elemen pendukung Iran khususnya dari kalangan Alawiyah.

Selain itu, kekhawatiran terhadap perubahan demografi dan aktivitas ilegal turut memperkuat penolakan warga. Beberapa laporan mengaitkan wilayah yang dikuasai milisi separatis Druze dengan jalur perdagangan narkotika seperti Captagon warisan era Assad. Hal ini dianggap merusak tatanan sosial dan masa depan generasi muda. Bagi warga, kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya bersifat politik, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Pada akhirnya, penyelesaian krisis Suwayda bergantung pada dialog nasional yang jujur tanpa intervensi asing. Banyak tokoh, termasuk Hassan al-Atrash, mendorong solusi internal demi menghentikan konflik berkepanjangan. Masyarakat Suriah menginginkan kedaulatan penuh, bebas dari pengaruh milisi separatis dan agenda Israel Raya. Stabilitas hanya dapat terwujud jika kepentingan rakyat ditempatkan di atas ambisi geopolitik pihak luar.

Read More

Kamis, 08 Januari 2026

Yaman: Pimpinan STC Diperkirakan Sudah di UEA

Januari 08, 2026
Yaman: Pimpinan STC Diperkirakan Sudah di UEA
Evakuasi mendadak Eidros Zubidi dari Kota Aden kini menjadi sorotan internasional. Informasi terbaru yang diumumkan oleh juru bicara resmi Coalition to Support Legitimacy in Yemen, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, mengungkapkan rincian perjalanan Zubidi.

Menurut laporan, Zubidi bersama beberapa orang lainnya melakukan pelarian malam hari melalui jalur laut menggunakan kapal yang terdaftar dengan nomor IMO 8101393. Kapal ini berangkat dari Pelabuhan Aden menuju wilayah Somaliland di Somalia pada tanggal 7 Januari 2026, tepat setelah tengah malam.

Selama perjalanan, kapal menonaktifkan sistem identifikasi untuk menghindari deteksi. Kapal tersebut akhirnya tiba di Pelabuhan Berbera sekitar pukul 12 siang waktu setempat. Keamanan dan koordinasi perjalanan ini tampak terstruktur dengan kontak langsung dengan pihak militer.

Zubidi diketahui menghubungi seorang perwira yang dikenal dengan nama Abu Said, yang diidentifikasi sebagai Letnan Jenderal Awad Said Maslah Al-Ahbabi, komandan operasi gabungan Uni Emirat Arab (UEA). Informasi ini menunjukkan keterlibatan langsung pihak militer asing dalam evakuasi.

Setelah mendarat di Berbera, Zubidi dan rombongan menunggu kedatangan pesawat jenis Ilyushin IL-76 dengan nomor penerbangan MZB-9102. Pesawat ini kemudian mengangkut Zubidi ke lokasi yang tidak diumumkan awalnya, di bawah pengawasan perwira militer UEA.

Pesawat tersebut dilaporkan mendarat di Bandara Mogadishu pada pukul 15.15 waktu setempat. Pesawat menunggu sekitar satu jam sebelum terbang kembali menuju wilayah Teluk Arab, melewati Laut Arab, tanpa mengungkapkan tujuan akhir secara resmi.

Sistem identifikasi pesawat ditutup ketika melewati Teluk Oman dan baru diaktifkan kembali sepuluh menit sebelum mendarat di Bandara Militer Al-Reef, Abu Dhabi, sekitar pukul 20.47 waktu setempat. Prosedur ini menunjukkan pengamanan ketat dalam operasi evakuasi.

Jenis pesawat IL-76 yang digunakan dikenal kerap dipakai di zona konflik serta jalur internasional yang melintasi Libya, Ethiopia, dan Somalia. Penggunaan pesawat ini menegaskan sifat strategis dan sensitif dari operasi tersebut.

Pemeriksaan dokumen kapal BAMEDHAF menunjukkan kapal tersebut berbendera Saint Kitts dan Nevis. Fakta ini menimbulkan korelasi dengan kapal Greenland yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut kendaraan tempur dan senjata ke Pelabuhan Mukalla dari Pelabuhan Fujairah.

Sejak pengumuman ini, pasukan koalisi terus memantau informasi terkait beberapa orang yang terakhir bertemu Zubidi sebelum pelarian. Di antara mereka termasuk Ahmed Hamed Lamlas, mantan gubernur Aden, dan Mohsen Al-Wali, komandan pasukan Security Belt di Aden.

Hingga kini, komunikasi dengan Lamlas dan Al-Wali terputus. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai nasib mereka, apakah ikut terlibat atau menjadi target operasi yang lebih besar.

Evakuasi ini memicu pertanyaan tentang tingkat keterlibatan pihak asing, khususnya UEA, dalam politik internal Yaman. Skenario koordinasi militer dan jalur rahasia menunjukkan perencanaan matang yang sulit diungkap sepenuhnya.

Sejumlah pakar menilai operasi ini menegaskan kemampuan pihak koalisi dalam melakukan ekstraksi strategis di wilayah konflik. Metode jalur laut ditambah jalur udara menunjukkan kombinasi taktik konvensional dan modern.

Sementara itu, pihak koalisi menekankan bahwa informasi tambahan masih terus dikumpulkan. Fokus utama adalah memastikan keselamatan individu yang terlibat serta mengantisipasi dampak politik dari pelarian ini.

Pelarian Zubidi melalui laut dan udara sekaligus menjadi contoh manuver operasional yang jarang diungkap secara publik. Kecepatan dan ketelitian koordinasi menunjukkan jaringan intelijen yang terorganisir dengan baik.

Pola perjalanan juga menyoroti pemanfaatan wilayah netral, seperti Somaliland, sebagai jalur transit yang aman. Pilihan ini memberikan perlindungan sementara sebelum masuk ke jalur udara menuju Abu Dhabi.

Keterlibatan langsung pejabat militer UEA menegaskan hubungan strategis antara Zubidi dan pihak koalisi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang agenda politik yang lebih luas di Yaman Selatan.

Sumber-sumber intelijen juga menyebutkan bahwa kapal dan pesawat yang digunakan merupakan aset yang rutin dipakai dalam operasi konflik internasional. Ini menunjukkan kesiapan logistik yang tinggi.

Evakuasi ini kemungkinan akan mempengaruhi dinamika politik di Aden dan wilayah sekitarnya. Kehilangan figur kunci seperti Zubidi membuka celah kekuasaan dan potensi perebutan posisi baru di pemerintahan lokal.

Hingga kini, koalisi terus menegaskan bahwa operasi ini masih dipantau secara ketat. Informasi terbaru akan dirilis secara resmi sesuai perkembangan situasi di lapangan, menunggu hasil investigasi lebih lanjut mengenai nasib individu lainnya.

Kasus pelarian Zubidi ini menjadi sorotan internasional sekaligus bukti kompleksitas konflik di Yaman. Strategi pelarian yang melibatkan jalur laut dan udara menunjukkan kecanggihan operasi militer dan intelijen di kawasan ini.

Read More

Kamis, 01 Januari 2026

Hadramaut Rayakan Kepergian Pasukan STC Yaman Selatan

Januari 01, 2026
Hadramaut Rayakan Kepergian Pasukan STC Yaman Selatan
Warga Hadramaut menyambut dengan penuh kegembiraan penarikan pasukan Uni Emirat Arab dan unsur Dewan Transisi Selatan dari sejumlah titik di wilayah mereka. Suasana lega dan haru menyatu di tengah masyarakat yang selama berbulan-bulan merasakan tekanan keamanan dan sosial.

Di kota Ghail bin Yamin, malam pergantian hari menjadi momentum luapan emosi kolektif warga. Jalan-jalan kota dipenuhi masyarakat yang merayakan berakhirnya fase sulit yang mereka sebut sebagai masa penuh penderitaan.

Warga menuturkan bahwa kehadiran kelompok bersenjata dari luar Hadramaut sebelumnya membawa ketakutan yang mendalam. Penggerebekan rumah, intimidasi, penahanan sewenang-wenang, hingga pengepungan ketat disebut sebagai pengalaman pahit yang belum pernah terjadi dalam sejarah distrik tersebut.

Kondisi itu tidak mematahkan tekad warga Ghail bin Yamin. Mereka menegaskan bahwa kehendak masyarakat tetap kokoh dan tidak tergoyahkan meski berada di bawah tekanan dan ancaman.

Dalam berbagai pernyataan, warga menekankan penolakan tegas terhadap segala bentuk penindasan. Mereka menyatakan komitmen untuk mempertahankan hak-hak sah serta menjaga kota mereka sebagai bagian otentik dari Hadramaut yang merdeka dan bermartabat.

Perayaan berlangsung meriah dengan konvoi sepeda motor yang mengelilingi kota. Sorak sorai terdengar di sepanjang jalan, sementara kembang api menghiasi langit malam Ghail bin Yamin.

Bendera Aliansi Suku Hadramaut tampak dikibarkan oleh para peserta konvoi. Simbol tersebut menjadi penegasan persatuan sikap dan keteguhan identitas masyarakat Hadramaut.

Warga menilai dukungan terhadap Aliansi Suku Hadramaut bukanlah sikap sesaat. Bagi mereka, ini adalah posisi sejarah yang lahir dari kesadaran kolektif untuk membela tanah dan kehormatan Hadramaut.

Ghail bin Yamin disebut sebagai salah satu titik awal perlawanan sipil yang damai. Dari kota dan lembah yang mereka cintai ini, sikap-sikap perjuangan disusun dengan mengedepankan kebanggaan dan martabat.

Bagi masyarakat setempat, barisan sikap tersebut bukan sekadar simbol, melainkan cerminan tekad untuk mempertahankan Hadramaut sebagai tanah dan identitas manusia yang berdaulat.

Warga juga menyampaikan penghargaan khusus kepada Kerajaan Arab Saudi. Mereka menilai peran Riyadh penting dalam mendukung Hadramaut dan rakyatnya di tengah dinamika politik dan keamanan kawasan.

Dukungan tersebut dianggap sejalan dengan penguatan legitimasi negara Yaman. Warga menolak segala upaya yang dinilai dapat mengancam keamanan dan stabilitas Hadramaut.

Di tengah perayaan, doa-doa juga dipanjatkan untuk para syuhada yang telah gugur. Pengorbanan mereka disebut sebagai fondasi bagi keteguhan sikap masyarakat hari ini.

Warga turut mendoakan kesembuhan bagi mereka yang terluka akibat rangkaian peristiwa sebelumnya. Suasana haru menyelimuti saat nama-nama korban disebut dalam perbincangan warga.

Selain itu, tuntutan pembebasan seluruh tahanan kembali disuarakan. Masyarakat menilai keadilan belum sepenuhnya terwujud selama masih ada warga yang ditahan tanpa proses jelas.

Para tokoh lokal menegaskan bahwa suara Ghail bin Yamin tidak akan pernah padam. Kota ini disebut akan tetap menjadi garda terdepan dalam membela Hadramaut.

Komitmen tersebut diarahkan pada nilai-nilai keamanan, keadilan, dan martabat manusia. Bagi warga, inilah inti perjuangan yang tidak dapat ditawar.

Penarikan pasukan asing dipandang sebagai langkah awal menuju normalisasi kehidupan. Warga berharap situasi ini menjadi titik balik bagi stabilitas jangka panjang.

Meski demikian, masyarakat menyadari tantangan belum sepenuhnya berakhir. Kewaspadaan tetap dijaga agar pengalaman pahit tidak terulang kembali.

Malam perayaan itu akhirnya ditutup dengan doa bersama. Di bawah cahaya kembang api, warga Ghail bin Yamin menegaskan sumpah setia mereka kepada Hadramaut.

Bagi masyarakat Hadramaut, kegembiraan ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan pernyataan bahwa kehormatan, persatuan, dan kehendak rakyat tetap menjadi kekuatan utama dalam menentukan masa depan wilayah mereka.

Read More

Kamis, 25 September 2025

Ekonomi Ma'arat al-Nu'man Idlib Suriah Mulai Bangkit dan Menggeliat

September 25, 2025
Ekonomi Ma'arat al-Nu'man Idlib Suriah Mulai Bangkit dan Menggeliat

Kota Ma'arat al-Nu'man, Suriah, yang pernah porak-poranda akibat konflik berkepanjangan, kini menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru. Ribuan penduduk yang terpaksa mengungsi akibat perang mulai kembali ke kampung halaman mereka. Meski banyak bangunan hancur, semangat warga untuk membangun kembali kota ini tak pernah padam. Langkah-langkah restorasi besar-besaran mulai terlihat, menjadi simbol harapan di tengah puing-puing kehancuran.  

Kembalinya penduduk ke Ma'arat al-Nu'man membawa angin segar bagi kota yang pernah menjadi saksi bisu perang. Banyak dari mereka yang pulang mulai memperbaiki rumah-rumah mereka yang rusak. Seorang warga setempat bahkan telah membuka kantor real estat untuk membantu proses kepulangan dan pemulihan. Kantor ini menjadi pusat koordinasi bagi warga yang ingin membangun kembali kehidupan mereka di kota ini.  

Namun, tantangan masih menghadang. Sebagian besar rumah di Ma'arat al-Nu'man mengalami kerusakan parah, bahkan ada yang hancur total. Banyak warga yang kembali terpaksa tinggal di tenda atau ruangan yang belum selesai dibangun karena keterbatasan tempat tinggal. Kondisi ini mencerminkan betapa sulitnya proses rekonstruksi di tengah keterbatasan sumber daya dan infrastruktur.  

Meski begitu, semangat untuk bangkit terus terpancar dari warga Ma'arat al-Nu'man. Mereka tidak hanya berfokus pada perbaikan rumah, tetapi juga menghidupkan kembali aktivitas sehari-hari. Pasar lokal mulai ramai, dan interaksi sosial di antara warga kembali mengalir. Kehidupan yang sempat terhenti kini perlahan menemukan ritmenya kembali, memberikan harapan baru bagi kota ini.  

Di sektor pertanian, kembalinya penduduk membawa dampak positif yang signifikan. Para petani di Ma'arat al-Nu'man kembali mengolah kebun mereka yang sempat terbengkalai. Hasil panen seperti almond, aprikot, kenari, delima, dan persik mulai melimpah, menjadi bukti bahwa sektor pertanian kota ini mulai pulih. Kebun-kebun yang dulu sepi kini kembali hijau dan produktif.  

Aktivitas pertanian ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga simbol ketahanan warga Ma'arat al-Nu'man. Para petani bekerja keras untuk memastikan lahan mereka kembali berbuah, meski tantangan seperti kurangnya air dan alat masih sering dihadapi. Keberhasilan mereka dalam menghidupkan kembali sektor pertanian menjadi inspirasi bagi warga lain untuk terus maju.  

Selain pertanian, warga juga berupaya mempercantik wajah kota. Taman-taman kota yang sempat rusak kini mulai dipulihkan. Proyek perbaikan trotoar sedang gencar dilakukan, lengkap dengan penanaman pohon saru dan pinus untuk menghijaukan kembali Ma'arat al-Nu'man. Upaya ini menunjukkan komitmen warga untuk tidak hanya membangun tempat tinggal, tetapi juga menciptakan lingkungan yang nyaman.  

Pemulihan taman kota menjadi salah satu langkah penting dalam mengembalikan identitas Ma'arat al-Nu'man sebagai kota yang hidup. Dulu, taman-taman ini menjadi tempat berkumpulnya warga, dan kini mereka berharap fungsi tersebut dapat kembali seperti sedia kala. Penanaman pohon baru juga menjadi simbol harapan untuk masa depan yang lebih hijau dan lestari.  

Namun, proses restorasi ini tidak berjalan tanpa hambatan. Kurangnya dana dan material konstruksi menjadi kendala utama bagi warga. Banyak rumah yang masih belum memiliki lapisan luar atau atap yang layak, memaksa sebagian warga tinggal dalam kondisi seadanya. Meski demikian, tekad untuk membangun kembali tidak pernah surut.  

Pemerintah setempat dan organisasi non-pemerintah juga mulai memberikan perhatian pada Ma'arat al-Nu'man. Beberapa bantuan mulai mengalir, meski masih terbatas. Bantuan ini mencakup material bangunan dan kebutuhan dasar untuk membantu warga yang baru kembali. Namun, warga berharap ada lebih banyak dukungan untuk mempercepat proses pemulihan.  

Kehidupan sosial di Ma'arat al-Nu'man juga mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Anak-anak kembali bermain di jalanan, dan suara tawa mulai terdengar di sudut-sudut kota. Meski banyak keluarga masih menghadapi kesulitan, kebersamaan warga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan. Solidaritas ini menjadi perekat yang memperkuat semangat kolektif.  

Di tengah keterbatasan, warga Ma'arat al-Nu'man menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Beberapa warga memanfaatkan puing-puing bangunan untuk memperbaiki rumah mereka, sementara yang lain saling membantu dalam proses konstruksi. Semangat gotong royong ini menjadi ciri khas yang mempercepat pemulihan kota.  

Sektor ekonomi lokal juga mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Selain kantor real estat, beberapa toko kecil mulai beroperasi kembali. Pedagang lokal kembali menjajakan barang dagangan mereka, mulai dari kebutuhan pokok hingga hasil pertanian. Aktivitas ini memberikan dorongan ekonomi yang sangat dibutuhkan oleh warga.  

Namun, tantangan keamanan masih menjadi perhatian. Meski situasi di Ma'arat al-Nu'man relatif stabil, bayang-bayang konflik masa lalu masih membekas. Warga berharap stabilitas keamanan dapat terus terjaga agar proses pemulihan tidak terganggu. Keamanan menjadi kunci utama bagi kelanjutan pembangunan kota ini.  

Pendidikan juga menjadi fokus bagi warga yang kembali. Beberapa sekolah mulai dibuka kembali, meski dengan fasilitas yang masih terbatas. Anak-anak yang sempat putus sekolah kini memiliki kesempatan untuk kembali belajar. Upaya ini menjadi langkah penting untuk memastikan generasi mendatang memiliki masa depan yang lebih baik.  

Kembalinya penduduk ke Ma'arat al-Nu'man juga membawa cerita-cerita haru. Banyak keluarga yang akhirnya bersatu kembali setelah terpisah selama bertahun-tahun. Momen-momen reuni ini menjadi penyemangat bagi warga untuk terus berjuang membangun kembali kehidupan mereka.  

Di tengah semua tantangan, warga Ma'arat al-Nu'man menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Mereka tidak hanya berjuang untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mengembalikan kejayaan kota mereka. Setiap rumah yang diperbaiki, setiap pohon yang ditanam, dan setiap panen yang berhasil menjadi bukti bahwa harapan masih hidup.  

Proses pemulihan Ma'arat al-Nu'man masih panjang dan penuh liku. Namun, semangat warga yang tak kenal menyerah menjadi pendorong utama. Mereka percaya bahwa dengan kerja keras dan kebersamaan, kota ini akan kembali bangkit sebagai tempat yang layak untuk ditinggali.  

Dunia perlu melihat kisah Ma'arat al-Nu'man sebagai inspirasi. Di tengah puing-puing kehancuran, warga kota ini menunjukkan bahwa harapan dan ketahanan mampu mengalahkan segala rintangan. Dengan dukungan yang tepat, Ma'arat al-Nu'man bisa menjadi contoh kebangkitan dari keterpurukan.  

Kisah Ma'arat al-Nu'man adalah cerminan dari kekuatan manusia untuk bangkit dari keterpurukan. Meski perang telah meninggalkan luka yang dalam, warga kota ini membuktikan bahwa dengan semangat dan kerja keras, masa depan yang lebih cerah bukanlah mimpi. Ma'arat al-Nu'man sedang menulis babak baru, dan dunia diajak untuk menyaksikan keajaiban kebangkitannya.

Read More

Senin, 15 September 2025

Gaji Presiden Baru Suriah Dibanding Assad

September 15, 2025
Gaji Presiden Baru Suriah Dibanding Assad

Presiden baru Suriah, Ahmed Al Sharaa, resmi menjabat di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Salah satu sorotan publik adalah mengenai gaji yang diterimanya.

Jika mengacu pada gaji Bashar al-Assad sebelumnya, gaji presiden baru ini tidak terlalu besar. Meskipun ada kenaikan signifikan, nilai riilnya tetap terbatas akibat kondisi ekonomi Suriah.

Bashar al-Assad sebelumnya telah mengeluarkan dekrit untuk menaikkan gaji pejabat tinggi pemerintah. Kenaikan ini mencakup wakil presiden, perdana menteri, menteri, dan pejabat lainnya.

Gaji wakil presiden dinaikkan menjadi satu juta pound Suriah. Mengacu pada nilai tukar resmi, jumlah ini sekitar 100 dolar AS, yang menimbulkan perbandingan menarik terhadap gaji pejabat internasional lain.

Perdana menteri juga mendapatkan kenaikan gaji menjadi satu juta pound, sementara wakil perdana menteri menerima 900.000 pound.

Menteri di pemerintahan Suriah menerima gaji bulanan sebesar 900.000 pound, sedangkan gubernur menerima 690.000 pound. Hal ini menunjukkan adanya penyesuaian untuk semua level pejabat.

Ketua parlemen memperoleh gaji satu juta pound, dan wakil ketua mendapatkan 900.000 pound. Anggota parlemen lain menerima gaji 630.000 pound.

Dalam dekrit yang sama, ketua Pengadilan Kasasi dan ketua Dewan Negara juga menerima 900.000 pound. Sementara anggota Mahkamah Konstitusi mendapat 820.000 pound.

Selain gaji, dekrit juga mengatur batas maksimum pensiun. Wakil presiden, ketua parlemen, perdana menteri, wakil menteri, dan menteri memiliki pensiun maksimum 670.000 pound.

Gubernur memiliki pensiun yang lebih rendah, yakni 520.000 pound. Hal ini mencerminkan hierarki jabatan dalam sistem pemerintahan Suriah.

Kenaikan gaji terjadi bersamaan dengan turunnya nilai pound Suriah terhadap dolar. Kondisi ini membuat kenaikan nominal gaji tidak sebanding dengan daya beli riil.

Selain gaji, pemerintah Suriah juga mengurangi sebagian subsidi bahan bakar. Langkah ini memicu kritik dari warga yang merasa terbebani oleh kondisi ekonomi yang memburuk.

Harga bahan makanan di Suriah terus meningkat. Kenaikan gaji pejabat tidak sebanding dengan inflasi yang mencekik masyarakat.

Warga mempertanyakan prioritas pemerintah. Mereka menilai kenaikan gaji tinggi pejabat terjadi sementara kehidupan sehari-hari semakin sulit.

Kenaikan gaji resmi dijadwalkan akan diterapkan 100% awal bulan depan. Namun, nilai riil yang diterima tetap rendah karena devaluasi mata uang.

Gaji presiden baru Ahmed Al Sharaa, walaupun tiga kali lipat dari posisi sebelumnya, tetap relatif kecil bila dibandingkan standar internasional.

Pada saat pemerintahan penyelamat (SG) dan interim (SIG) di Suriah, gaji pegawai di atas 1000 dolar AS karena ekonomi kedua wilayah itu sempat menyatu dengan Turki. Artinya, jika pengawai dua daerah itu dilebur, maka yang terjadi adalah pengurangan gaji. 

Sekedar info, jadup atau jatah hidup pengungsi di Suriah saja sekitar 60 dolar AS yang dibagikan dalam bentuk sembako oleh lembaga internasional.

Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan gaji pejabat Suriah masih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan stabilitas nilai tukar.

Masyarakat menaruh harapan agar gaji tinggi pejabat tidak mengabaikan kebutuhan rakyat biasa yang terdampak ekonomi pasca-konflik.

Kritik publik dan media internasional menyoroti gap antara kenaikan gaji pejabat dan realitas kehidupan warga. Transparansi dan akuntabilitas menjadi sorotan utama.

Secara keseluruhan, gaji presiden baru Ahmed Al Sharaa mencerminkan kombinasi antara kenaikan formal dan keterbatasan ekonomi nasional. Hal ini menjadi bahan perbincangan di kalangan warga dan pengamat politik.

Perbandingan dengan wilayah SDF Suriah

Berikut informasi mengenai gaji pegawai wilayah SDF (Syrian Democratic Forces) / otonomi Kurdi di Suriah, terutama di kawasan pemerintahan Otonom Utara dan Timur Suriah (AANES):

---

Temuan terkait gaji

1. Pemerintah otonom (AANES) pernah menaikkan gaji pegawai lokal di wilayahnya karena inflasi yang sangat tinggi. Minimum gaji pegawai pemerintah lokal dinaikkan dari 360.000 SYP/bulan menjadi 520.000 SYP/bulan, setara kira-kira US$70. 

2. Untuk anggota SDF (militer), terdapat kenaikan gaji juga, dari 550.000 SYP/bulan (≈ US$72) menjadi 750.000 SYP/bulan (≈ US$100). 

3. Selain itu, terdapat klasifikasi gaji berdasarkan “kontrak” atau pengalaman di SDF, misalnya:

Anggota komando dengan kontrak enam tahun: ~ 3.020.000 SYP 

Anggota dengan kontrak awal: sekitar 1.370.000 - 1.710.000 SYP tergantung level kontrak dan jabatan. 

Gaji anggota biasa SDF: sekitar 1.000.000 SYP dalam beberapa kategori kontrak. 

---

Analisis dan catatan tambahan

Nilai tukar SYP (pound Suriah) sangat fluktuatif, dan inflasi sangat tinggi. Jadi meskipun jumlah SYPnya besar, daya belinya rendah. Misalnya gaji militer SDF sekitar 750.000 SYP ≈ US$100, yang bagi banyak orang masih sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup yang meningkat. 

Ada juga laporan bahwa beberapa pegawai belum dibayar selama periode tertentu di beberapa wilayah, yang menunjukkan bahwa meskipun ada putusan untuk menaikkan gaji, implementasinya tidak selalu berjalan lancar. 

Beberapa jabatan tinggi atau dengan kontrak khusus mendapatkan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan pegawai biasa atau kontrak awal. Namun, nilai yang lebih tinggi ini tetap relatif jika dibandingkan dengan standar internasional dan kebutuhan hidup setempat.

Read More

Jumat, 04 November 2022

Upaya Gagal Abdullah Saleh Rebut Kekuasaan dari Kelompok Houthi di Yaman

November 04, 2022
Upaya Gagal Abdullah Saleh Rebut Kekuasaan dari Kelompok Houthi di Yaman


Di akhir hayatnya, Presiden Abdullah Saleh ternyata pernah melakukan upaya untuk mengambil alih kekuasaan dari kelompok Houthi yang menjadi koalisinya 'mengkudeta' Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi sebelumnya.

Pada 2014, Hadi melarikan diri ke Aden dan menjadikannya ibukota sementara sebelum akhirnya pindah ke Riyadh.

Partai Kongres Rakyat Umum yang dipimpin eks Presiden Abdullah Saleh lalu membentuk pemerintahan berserta kelompok Houthi.


Namun dua tahun berikutanya, Abdullah Saleh secara diam-diam mulai merancang 'kudeta' untuk mengambil alih kekuasaan sepenuhnya dengan membentuk Dewan Militer yang akan dipimpin oleh kemenakannya Tarik Saleh. (Baca selanjutnya)

Dia bahkan sudah mengumumkan melalui sebuah stasiun TV bahwa partainya bersedia mengajukan proposal damai ke pemerintah asal blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai bersama Houthi dihentikan.

Namun, kelompok Houthi mencium langkah politik Abdullah Saleh ini dan berujung pada pembunuhan dirinya.


Kisah Abdullah Saleh ini layak untuk dibukukan sebagai 'masternya intelijen'.

Apalagi mekihat sepak terjangnya di era Perang Dingin antara AS vs Uni Soviet.

Saat itu dirinya mendukung AS karena Uni Soviet sebelumnya merupakan pendukung utama Yaman Selatan.

Read More

More News