Warga Hadramaut menyambut dengan penuh kegembiraan penarikan pasukan Uni Emirat Arab dan unsur Dewan Transisi Selatan dari sejumlah titik di wilayah mereka. Suasana lega dan haru menyatu di tengah masyarakat yang selama berbulan-bulan merasakan tekanan keamanan dan sosial.
Di kota Ghail bin Yamin, malam pergantian hari menjadi momentum luapan emosi kolektif warga. Jalan-jalan kota dipenuhi masyarakat yang merayakan berakhirnya fase sulit yang mereka sebut sebagai masa penuh penderitaan.
Warga menuturkan bahwa kehadiran kelompok bersenjata dari luar Hadramaut sebelumnya membawa ketakutan yang mendalam. Penggerebekan rumah, intimidasi, penahanan sewenang-wenang, hingga pengepungan ketat disebut sebagai pengalaman pahit yang belum pernah terjadi dalam sejarah distrik tersebut.
Kondisi itu tidak mematahkan tekad warga Ghail bin Yamin. Mereka menegaskan bahwa kehendak masyarakat tetap kokoh dan tidak tergoyahkan meski berada di bawah tekanan dan ancaman.
Dalam berbagai pernyataan, warga menekankan penolakan tegas terhadap segala bentuk penindasan. Mereka menyatakan komitmen untuk mempertahankan hak-hak sah serta menjaga kota mereka sebagai bagian otentik dari Hadramaut yang merdeka dan bermartabat.
Perayaan berlangsung meriah dengan konvoi sepeda motor yang mengelilingi kota. Sorak sorai terdengar di sepanjang jalan, sementara kembang api menghiasi langit malam Ghail bin Yamin.
Bendera Aliansi Suku Hadramaut tampak dikibarkan oleh para peserta konvoi. Simbol tersebut menjadi penegasan persatuan sikap dan keteguhan identitas masyarakat Hadramaut.
Warga menilai dukungan terhadap Aliansi Suku Hadramaut bukanlah sikap sesaat. Bagi mereka, ini adalah posisi sejarah yang lahir dari kesadaran kolektif untuk membela tanah dan kehormatan Hadramaut.
Ghail bin Yamin disebut sebagai salah satu titik awal perlawanan sipil yang damai. Dari kota dan lembah yang mereka cintai ini, sikap-sikap perjuangan disusun dengan mengedepankan kebanggaan dan martabat.
Bagi masyarakat setempat, barisan sikap tersebut bukan sekadar simbol, melainkan cerminan tekad untuk mempertahankan Hadramaut sebagai tanah dan identitas manusia yang berdaulat.
Warga juga menyampaikan penghargaan khusus kepada Kerajaan Arab Saudi. Mereka menilai peran Riyadh penting dalam mendukung Hadramaut dan rakyatnya di tengah dinamika politik dan keamanan kawasan.
Dukungan tersebut dianggap sejalan dengan penguatan legitimasi negara Yaman. Warga menolak segala upaya yang dinilai dapat mengancam keamanan dan stabilitas Hadramaut.
Di tengah perayaan, doa-doa juga dipanjatkan untuk para syuhada yang telah gugur. Pengorbanan mereka disebut sebagai fondasi bagi keteguhan sikap masyarakat hari ini.
Warga turut mendoakan kesembuhan bagi mereka yang terluka akibat rangkaian peristiwa sebelumnya. Suasana haru menyelimuti saat nama-nama korban disebut dalam perbincangan warga.
Selain itu, tuntutan pembebasan seluruh tahanan kembali disuarakan. Masyarakat menilai keadilan belum sepenuhnya terwujud selama masih ada warga yang ditahan tanpa proses jelas.
Para tokoh lokal menegaskan bahwa suara Ghail bin Yamin tidak akan pernah padam. Kota ini disebut akan tetap menjadi garda terdepan dalam membela Hadramaut.
Komitmen tersebut diarahkan pada nilai-nilai keamanan, keadilan, dan martabat manusia. Bagi warga, inilah inti perjuangan yang tidak dapat ditawar.
Penarikan pasukan asing dipandang sebagai langkah awal menuju normalisasi kehidupan. Warga berharap situasi ini menjadi titik balik bagi stabilitas jangka panjang.
Meski demikian, masyarakat menyadari tantangan belum sepenuhnya berakhir. Kewaspadaan tetap dijaga agar pengalaman pahit tidak terulang kembali.
Malam perayaan itu akhirnya ditutup dengan doa bersama. Di bawah cahaya kembang api, warga Ghail bin Yamin menegaskan sumpah setia mereka kepada Hadramaut.
Bagi masyarakat Hadramaut, kegembiraan ini bukan sekadar euforia sesaat, melainkan pernyataan bahwa kehormatan, persatuan, dan kehendak rakyat tetap menjadi kekuatan utama dalam menentukan masa depan wilayah mereka.





